Intrusi Air Laut di Mahakam Belum Ganggu Pasokan Air Bersih Samarinda

portalindonesia.id

Tongkang Batu Bara yang lalu-lalang di sungai mahakam, di ambil dari Caffe Sahara, Loa Janan. (Foto: Hanafi/MKN)
Tongkang Batu Bara yang lalu-lalang di sungai mahakam, di ambil dari Caffe Sahara, Loa Janan. (Foto: Hanafi/MKN)

SAMARINDA – Debit Sungai Mahakam di Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menyusut akibat kondisi kemarau. Penyusutan debit tersebut membuat air laut mulai masuk ke bagian muara Sungai Mahakam saat air pasang.

Meski demikian, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda memastikan kondisi tersebut belum mengganggu ketersediaan air baku untuk kebutuhan masyarakat di Samarinda.

Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda Andri Rachmanto Wibowo mengatakan air laut yang masuk saat ini masih terbatas di sekitar wilayah muara dan dipengaruhi kondisi pasang surut.

Menurut dia, situasi tersebut berbeda ketika debit Sungai Mahakam masih tinggi. Aliran air tawar dari hulu mampu menahan pergerakan air laut sehingga tidak masuk lebih jauh ke badan sungai.

“Karena ini sudah agak menyusut itu memang sebagian ada yang masuk, tapi itu tidak mempengaruhi pengambilan air minum untuk PDAM,” kata Andri kepada detikKalimantan, Kamis (20/8/2026).

Andri menjelaskan perusahaan daerah air minum (PDAM) memiliki standar tertentu terhadap kualitas air baku sebelum diolah menjadi air bersih untuk masyarakat.

Salah satu parameter yang harus diperhatikan adalah kadar asin pada air.

Sejauh ini, air laut yang masuk ke Sungai Mahakam belum mencapai tingkat yang mengganggu proses pengambilan air baku.

“Jadi PDAM kan ada standarnya, bahwa kalau asin itu enggak boleh. Jadi betul masih aman lah saat ini,” ujarnya.

Selain mengandalkan Sungai Mahakam, Samarinda juga memiliki sumber air baku dari Bendungan Lempake.

Bendungan tersebut memiliki kapasitas sekitar 900.000 meter kubik dan menjadi salah satu sumber pasokan air bagi PDAM Samarinda.

“PDAM Samarinda itu juga mendapatkan air dari kami, dari Bendungan Lempake. Kapasitasnya 900.000 meter kubik. Jadi selain dari Sungai Mahakam juga ada dari Bendungan Lempake,” jelas Andri.

Dengan sejumlah sumber tersebut, BWS memastikan kebutuhan air baku masyarakat Samarinda masih mencukupi untuk menghadapi kondisi kemarau saat ini.

Pengelolaan cadangan air di sejumlah bendungan juga dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan menetapkan skala prioritas penggunaan air.

“Ini masih cukup dan aman,” kata Andri.

Kondisi berbeda terjadi di Kota Balikpapan. Kota tersebut masih menghadapi persoalan keterbatasan air baku sehingga BWS Kalimantan IV melakukan koordinasi dengan PDAM Balikpapan untuk menjaga ketersediaan pasokan.

BWS menargetkan cadangan air yang tersedia dapat mencukupi kebutuhan hingga Desember 2026, meskipun curah hujan masih berpotensi rendah.

“Balikpapan itu kan memang sehari-hari sering kekurangan air, tapi kami sudah koordinasi dengan PDAM Balikpapan supaya air itu cukup sampai Desember,” ungkap Andri.

Untuk menambah pasokan air baku Balikpapan, Bendungan Sepaku Semoi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) juga telah disiapkan.

Bendungan tersebut memiliki kapasitas sekitar 16 juta meter kubik dan direncanakan menyuplai sekitar 1.000 liter air per detik untuk Balikpapan.

Namun, distribusi air dari Bendungan Sepaku Semoi masih menunggu pembangunan jaringan pipa transmisi.

Pembangunan jaringan tersebut direncanakan menggunakan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

“Jadi nanti di Balikpapan itu sudah ada Bendungan Manggar sama Bendungan Teritip, sama sumur-sumur air tanah itu banyak, kita sudah buatkan tapi memang masih kurang,” jelas Andri.

Selain mengandalkan bendungan, BWS juga memanfaatkan potensi air tanah untuk memenuhi kebutuhan pada sejumlah sektor.

Sumur air tanah dibangun di lokasi yang memiliki cekungan air tanah atau akuifer. Kedalamannya dapat mencapai sekitar 200 meter.

Menurut Andri, setiap sumur dapat menghasilkan sekitar 5 hingga 10 liter air per detik. Selama ini, sumber air tersebut turut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian.

“Jadi kami memang menyedot, membuat sumurnya itu di tempat-tempat yang ada CAT-nya, ada akuifernya. Nah, itu kita manfaatkan selama ini buat pertanian,” katanya.

BWS memastikan pengelolaan seluruh sumber air dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai sektor, terutama ketika kondisi kering berlangsung.

Namun, kebutuhan air minum masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam pengaturan pemanfaatan cadangan air.

“Karena memang yang prioritas adalah buat air minum,” pungkas Andri.

SUMBER: jurnalborneo.com (Alex)

Bagikan

Baca juga