Unjuk Rasa di Yogyakarta Memanas, Mahasiswa dan Warga Bentrok

portalindonesia.id

Aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Yogyakarta di perempatan Gramedia, Yogyakarta, Selasa 1 September 2026 memanas. (Beritasatu/Olena Wibisana)
Aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Yogyakarta di perempatan Gramedia, Yogyakarta, Selasa 1 September 2026 memanas. (Beritasatu/Olena Wibisana)

Yogyakarta – Aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Yogyakarta di perempatan Gramedia, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam, memanas. Massa mahasiswa yang memblokade jalan terlibat ketegangan hingga aksi saling dorong dengan sekelompok orang yang mengaku sebagai warga Yogyakarta.

Ketegangan pecah ketika kelompok tersebut mendatangi lokasi aksi dan meminta mahasiswa membubarkan diri serta membuka akses jalan yang ditutup untuk unjuk rasa. Adu mulut pun tak terhindarkan. Situasi semakin panas hingga terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan kelompok yang mengaku sebagai warga tersebut. Polisi yang berada di lokasi langsung bergerak memisahkan kedua kelompok. Petugas berupaya mencegah ketegangan berkembang menjadi bentrokan yang lebih besar. Situasi akhirnya dapat diredam. Namun, massa mahasiswa masih bertahan di sekitar lokasi hingga Selasa malam.

Sebelum kericuhan terjadi, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta menggelar aksi untuk menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. Mahasiswa menilai sejumlah kebijakan pemerintah perlu dievaluasi karena dinilai membebani masyarakat dan keuangan negara.

Ketua SEMA UGM, Mesa, mengatakan mahasiswa telah berulang kali menyampaikan kritik sekaligus menawarkan alternatif terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Namun, menurut dia, aspirasi tersebut dinilai tidak mendapatkan respons yang memadai.

“Banyak kebijakan yang kami suarakan, bahkan kami berikan draf atau solusi alternatif dari kebijakan-kebijakan yang rancu tetapi tidak pernah diikuti, tidak pernah diselesaikan, tidak pernah didengarkan dengan baik,” kata Mesa, Selasa (1/9/2026).

Mahasiswa juga menyoroti persoalan anggaran pendidikan yang dinilai terlalu didominasi program MBG. Selain itu, anggaran kebencanaan dinilai belum cukup untuk memperkuat penanggulangan, mitigasi, evakuasi, hingga upaya pencegahan bencana.

“Anggaran kebencanaan itu yang menyebabkan sekarang sulit untuk menyelesaikan penanggulangan bencana, apalagi memitigasi, evakuasi atau upaya preventif dari bencana-bencana,” ujarnya.

Tak hanya itu, mahasiswa mempersoalkan perubahan data kesejahteraan masyarakat yang berdampak terhadap bantuan dan subsidi. Menurut Mesa, kondisi ekonomi masyarakat tidak serta-merta membaik meski terdapat perubahan dalam klasifikasi data kesejahteraan.

“Penghasilan minim tidak berubah, tanggungan justru semakin berat, subsidi semakin sedikit,” katanya.

Sumber: beritasatu.com

Bagikan

Baca juga