Diisukan Wafat karena Pendarahan Otak, Korea Utara Patahkan dengan Rilis Foto Terbaru Kim Jong-un

portalindonesia.id

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengamati sepasang sepatu kets anak-anak berwarna merah muda yang diperlihatkan oleh putrinya, Ju-ae, saat mengunjungi pameran pakaian dan alas kaki pada hari Senin, sebagaimana terlihat dalam gambar yang ditayangkan oleh Korean Central Television pada hari Selasa. (Yonhap)

Rumor mengenai kematian pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, akibat pendarahan otak telah beredar luas di media sosial dan berbagai media berita luar negeri dalam beberapa hari terakhir. Menanggapi hal tersebut, para pejabat Korea Selatan menepis klaim itu sebagai sesuatu yang tidak berdasar, sementara Pyongyang merilis foto-foto terbaru yang memperlihatkan sang pemimpin sedang menghadiri sebuah acara publik.

Spekulasi terkini—yang bermula dari unggahan media sosial yang belum terverifikasi oleh seorang pembangkang Tiongkok yang berbasis di Amerika Serikat, Wanjun Xie—merupakan bagian dari pola rumor kematian yang telah berlangsung selama beberapa dekade seputar dinasti penguasa Korea Utara. Rumor semacam ini kerap muncul karena rezim yang tertutup tersebut sangat membatasi akses informasi, ditambah dengan pertanyaan yang terus berulang mengenai kondisi kesehatan para pemimpinnya.

Tabloid Inggris The Sun, New York Post, dan Economic Times dari India turut mengangkat spekulasi tersebut minggu ini. Mereka melaporkan adanya klaim yang belum terverifikasi—yang beredar secara daring—bahwa Kim telah dirawat di rumah sakit di Beijing setelah mengalami pendarahan otak serius hingga kehilangan kesadaran.

Melalui unggahan di platform X, Xie mengeklaim bahwa sejumlah spesialis dari Rumah Sakit Peking Union Medical College telah dikirim ke Korea Utara untuk menangani Kim, sebelum akhirnya ia dipindahkan ke Beijing, tempat ia dikabarkan meninggal dunia.

Ia juga mengeklaim—tanpa menyertakan bukti—bahwa Tiongkok telah mengerahkan ribuan tentara ke Pyongyang untuk membantu menstabilkan potensi transisi kepemimpinan yang melibatkan putri Kim, Kim Ju-ae, serta untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gejolak internal.

Xie, yang sebelumnya juga pernah menyebarkan klaim tak terverifikasi mengenai kesehatan Presiden Tiongkok Xi Jinping serta dugaan penggunaan pemeran pengganti (body double), tidak memberikan rekam medis, kesaksian saksi mata, maupun bukti lain yang dapat diverifikasi secara independen untuk mendukung pernyataannya.

Xie mengaku memimpin Partai Demokrat Tiongkok (Chinese Democratic Party), sebuah kelompok politik yang dilarang oleh otoritas Tiongkok.

Rumor tersebut semakin ramai dibahas di media internasional. Beberapa laporan berspekulasi bahwa Kim Yo-jong—adik perempuan Kim yang menjabat sebagai direktur Departemen Urusan Umum Partai Buruh—mungkin akan mengambil alih kendali untuk sementara, sebelum akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Kim Ju-ae.

Para pejabat diplomatik dan keamanan Korea Selatan menyatakan bahwa mereka tidak menerima informasi apa pun yang mendukung klaim tersebut. Seorang pejabat dari Kementerian Unifikasi, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, juga menyebut laporan-laporan itu sebagai “rumor yang belum terverifikasi.”

Sementara itu, Korea Utara tampak memberikan bantahan tersendiri—meskipun tidak secara langsung menanggapi spekulasi tersebut. Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) melaporkan pada hari Selasa bahwa Kim telah mengunjungi pameran produk pakaian dan alas kaki di Pyongyang sehari sebelumnya. Mereka merilis foto-foto yang memperlihatkan Kim sedang meninjau lokasi pameran bersama istrinya, Ri Sol-ju, dan putrinya, Ju-ae.

Dalam salah satu foto, Kim terlihat membungkuk untuk mengamati sepasang sepatu anak-anak berwarna merah muda yang sedang dipegang oleh Ju-ae.

Foto-foto tersebut tampak bertolak belakang dengan klaim yang menyebutkan bahwa Kim sedang dalam keadaan koma atau telah meninggal dunia, meskipun waktu pengambilan foto tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Spekulasi yang Familiar

Rumor terbaru ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya, di mana lingkungan informasi yang dikontrol ketat di Korea Utara membiarkan spekulasi mengenai kesehatan para pemimpinnya berkembang menjadi klaim tentang kematian atau pergolakan politik.

Salah satu peristiwa yang paling menonjol terjadi pada April 2020, ketika Kim menghilang dari pandangan publik dan tidak menghadiri kunjungan tahunan ke Istana Matahari Kumsusan untuk memperingati “Hari Matahari”—hari kelahiran kakeknya sekaligus pendiri Korea Utara, Kim Il-sung.

Ketidakhadirannya memicu laporan bahwa ia telah menjalani operasi kardiovaskular dan berada dalam kondisi kritis atau bahkan telah meninggal dunia.

Spekulasi tersebut merembet ke ranah politik Korea Selatan, dengan beberapa politisi melontarkan penilaian yang terdengar sangat meyakinkan, padahal tidak ada informasi yang terverifikasi secara independen.

Thae Yong-ho, mantan diplomat Korea Utara yang baru saja terpilih menjadi anggota Majelis Nasional Korea Selatan melalui partai oposisi utama saat itu, Partai Masa Depan Bersatu (United Future Party), berulang kali menyatakan sepanjang April 2020 bahwa Kim mengalami kelumpuhan fisik dan tidak mampu berdiri atau berjalan secara normal.

Pada periode yang sama, Ji Seong-ho—seorang pembelot Korea Utara lainnya yang juga terpilih sebagai anggota parlemen dari partai oposisi, Partai Masa Depan Korea (Future Korea Party)—melangkah lebih jauh. Pada 1 Mei 2020, ia mengeklaim bahwa dirinya 99 persen yakin Kim telah meninggal dunia.

Dalam sebuah wawancara dengan media lokal Chosun Ilbo, Ji mengaku mendapat informasi dari sumber di dalam Korea Utara bahwa Kim telah meninggal pada akhir pekan sebelumnya, diduga akibat syok setelah menjalani operasi kardiovaskular. Meski demikian, Ji mengakui ada kemungkinan kecil Kim masih hidup, sehingga ia tidak bisa menyatakan kematian tersebut dengan kepastian mutlak.

Baik Thae maupun Ji kemudian menuai kritik tajam setelah media pemerintah Korea Utara merilis foto dan rekaman video pada 2 Mei, yang memperlihatkan Kim sedang menghadiri peresmian Pabrik Pupuk Fosfat Sunchon sehari sebelumnya. Dalam tayangan tersebut, Kim tampak berjalan dan muncul di depan publik untuk pertama kalinya dalam hampir tiga minggu—sebuah bukti yang secara telak mematahkan klaim mereka mengenai kondisi kesehatan maupun dugaan kematiannya.

Namun, ini bukanlah kali pertama muncul kabar keliru terkait kesehatan dan nasib dinasti yang berkuasa di Korea Utara. Pada November 1986, beredar kabar bahwa Kim Il-sung telah dibunuh; beberapa pihak bahkan mengeklaim bahwa bendera dikibarkan setengah tiang di wilayah Korea Utara yang dekat dengan perbatasan antar-Korea. Rumor tersebut terbantahkan ketika pendiri Korea Utara itu muncul di depan publik tak lama kemudian.

Pada September 2008, ketidakhadiran ayah Kim Jong-un, Kim Jong-il, dalam perayaan hari jadi ke-60 berdirinya Korea Utara memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya—bahkan muncul dugaan bahwa ia telah meninggal dunia.

Berbeda dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya, kekhawatiran mengenai kondisi Kim Jong-il saat itu memiliki dasar yang nyata, karena ia diyakini luas telah mengalami stroke. Namun, laporan yang menyebutkan ia telah meninggal ternyata tidak akurat; ia tetap memegang kekuasaan selama lebih dari tiga tahun setelahnya.

Kim Jong-un sendiri sempat menghilang dari pandangan publik selama kurang lebih 40 hari pada September dan Oktober 2014. Hal ini memicu spekulasi tentang adanya penyakit serius, bahkan kemungkinan terjadinya krisis kepemimpinan. Ia akhirnya muncul kembali dengan menggunakan tongkat bantu jalan; ketidakhadirannya saat itu pun banyak dikaitkan dengan masalah pada kaki atau persendian.

Gelombang rumor lainnya muncul pada Mei 2025, ketika beredar klaim yang belum terverifikasi di kalangan diplomatik dan keuangan yang menyebutkan bahwa Kim Jong-un kehilangan kesadaran saat melakukan kunjungan inspeksi ke Wonsan. Laporan tersebut pun terbukti tidak berdasar.

Peristiwa-peristiwa yang berulang ini sangat kontras dengan situasi yang terjadi saat kematian para pemimpin Korea Utara sebelumnya.

Ketika Kim Il-sung meninggal pada Juli 1994, Pyongyang menunggu lebih dari sehari sebelum mengumumkan kematiannya. Begitu pula saat Kim Jong-il meninggal pada Desember 2011; kabar tersebut disembunyikan selama hampir dua hari sebelum media pemerintah mengeluarkan pengumuman resmi.

Dalam kedua kasus tersebut, dunia luar sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi sampai pihak berwenang Korea Utara memutuskan untuk mengungkapkan berita tersebut.

Mengapa rumor tak kunjung mati

Bertahannya rumor-rumor semacam itu mencerminkan masalah mendasar bagi pemerintah dan para analis yang berupaya memahami perkembangan di dalam Korea Utara: informasi tepercaya mengenai pemimpin tertinggi negara tersebut tetap sangat langka.

Pyongyang memegang kendali hampir penuh atas informasi yang berkaitan dengan kepemimpinannya, termasuk kondisi kesehatan, jadwal kegiatan publik, dan pengaturan suksesi. Berbeda dengan para pemimpin dalam sistem politik yang lebih terbuka, Kim Jong-un tidak tunduk pada pengungkapan informasi kesehatan secara rutin kepada publik ataupun pengawasan pihak independen.

Kerahasiaan tersebut diperparah oleh kekhawatiran yang telah lama ada mengenai kondisi kesehatannya.

Badan Intelijen Nasional (NIS) Korea Selatan menilai pada tanggal 30 September bahwa Kim Jong-un tidak menunjukkan tanda-tanda masalah kesehatan serius yang nyata, meskipun berat badannya lebih dari 140 kilogram dan ia memiliki risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular.

Dalam sebuah pengarahan tertutup kepada Komite Intelijen Majelis Nasional, badan intelijen tersebut melaporkan bahwa Kim menunjukkan mobilitas yang relatif baik—termasuk berlari menaiki tangga saat melakukan inspeksi di sebuah kapal perusak angkatan laut—dan tetap berada di bawah pengawasan ketat tim medis khusus.

Penilaian ini diungkapkan oleh anggota parlemen Yoon Kun-young dari Partai Demokrat Korea (partai berkuasa) dan Yoo Yeong-ha dari Partai Kekuatan Rakyat (partai oposisi), yang masing-masing mewakili partai mereka dalam komite tersebut.

Menurut NIS, Kim telah tampil di depan publik sebanyak 121 kali sepanjang tahun ini, meningkat 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kontras ini menyoroti betapa sulitnya memisahkan pertanyaan yang sah mengenai kesehatan Kim dari klaim sensasional tentang kematiannya yang dianggap akan segera terjadi.

Untuk saat ini, foto-foto yang dirilis oleh Pyongyang serta tidak adanya informasi intelijen pendukung membuat rumor kematian terbaru tersebut tidak memiliki dasar yang kredibel.

Namun, pola yang lebih luas ini kemungkinan besar tidak akan hilang. Para pengamat menyatakan bahwa selama Korea Utara terus mempertahankan kerahasiaan luar biasa mengenai kesehatan dan keberadaan pemimpin tertingginya, kekosongan informasi seputar dinasti yang berkuasa tersebut akan tetap menjadi lahan subur bagi berbagai spekulasi.

Sumber: koreaherald.com

Bagikan

Baca juga