NEW YORK– Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada hari Kamis mengutuk serangan berkelanjutan kelompok Houthi terhadap target-target sipil di Arab Saudi sebagai tindakan yang “sama sekali tidak dapat diterima.” Ia juga memperingatkan bahwa eskalasi dan penyebaran konflik di seluruh dunia kini ibarat “El Nino dalam perang”—menciptakan gelombang kejut ekonomi yang menjangkau jauh melampaui medan pertempuran dan memberikan dampak paling berat bagi negara-negara berkembang.
Kepada para wartawan di markas besar PBB di New York, ia menyampaikan bahwa pertempuran di Yaman, khususnya di sekitar kota Taiz dan wilayah lainnya, terus meningkat. Situasi ini menimbulkan “penderitaan luar biasa bagi warga sipil” serta menambah ketegangan di kawasan tersebut.
“Ratusan ribu orang di Yaman terpaksa mengungsi dan kebutuhan kemanusiaan terus meningkat,” ujarnya. “Kita memerlukan pengendalian diri, dan Yaman membutuhkan harapan akan solusi politik.”
Guterres mengungkapkan bahwa minggu ini ia telah berbicara dengan ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, sementara utusan khususnya terus menjalin komunikasi dengan semua pihak demi “menjaga ruang bagi dialog.”
Ia menempatkan krisis Yaman dalam konteks peringatan yang lebih luas mengenai konflik di berbagai belahan dunia yang tidak hanya kian intens, tetapi juga meluas. Ia mengibaratkan fenomena ini dengan El Nino—sebuah peristiwa iklim di mana gangguan di satu bagian planet dapat berdampak drastis terhadap kehidupan ribuan kilometer jauhnya.
“Konflik memicu konflik lain, dan dampaknya merambat lebih jauh serta lebih cepat,” kata Guterres, seraya menambahkan bahwa perang merembet melalui pasar energi, jalur pelayaran, rantai pasok, dan sistem keuangan.
“Jarak dari Selat Hormuz hingga ke rumah keluarga atau pasar desa ternyata lebih dekat daripada yang kita bayangkan.”
Ia mengaitkan guncangan akibat konflik ini dengan berbagai protes terkait kenaikan biaya hidup di Eropa dan wilayah lainnya, serta tekanan yang kian berat terhadap masyarakat umum di negara-negara berkembang seiring dengan melonjaknya harga pangan, bahan bakar, dan suku bunga.
Meskipun ia mengecam kekerasan dan perusakan yang terjadi di jalanan Eropa selama aksi protes sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, ia mendesak pemerintah agar tidak membiarkan hal tersebut “menutupi keluhan yang sah dan nyata dari banyak pengunjuk rasa yang bertindak damai.” Guncangan-guncangan tersebut, ujarnya, berdampak pada “dunia yang sudah sangat timpang,” di mana sebagian keluarga mampu menanggung harga yang lebih tinggi, sementara keluarga lain harus memilih antara membeli makanan atau pemanas ruangan; begitu pula dengan negara-negara, ada yang bisa meminjam dana dengan bunga murah, sementara yang lain harus memilih antara membayar utang atau berinvestasi di sektor kesehatan dan pendidikan.
Perang “memperparah dan mengeksploitasi” ketimpangan ini, kata Guterres, seraya menyoroti “ketidakadilan mendasar dalam sistem ekonomi yang memaksa pihak yang paling rentan untuk menanggung guncangan terberat.”
Ia menuduh pihak-pihak yang terlibat konflik di berbagai wilayah—mulai dari Timur Tengah hingga Ukraina dan Sudan—sengaja menempatkan warga sipil dan infrastruktur sipil di tengah garis pertempuran. Hal ini merujuk pada serangan terhadap rumah, rumah sakit, sekolah, bandara, pembangkit listrik, dan fasilitas energi. “Tidak ada yang luput dari sasaran,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa serangan semacam itu dilarang oleh hukum internasional.
Di Wilayah Palestina yang Diduduki, Guterres menyebutkan bahwa Israel masih sangat membatasi masuknya bantuan esensial ke Gaza menjelang musim dingin. Tindakan ini juga menghambat upaya pelaksanaan Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza—yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan telah didukung oleh Dewan Keamanan PBB.
Di Tepi Barat yang diduduki, ia menambahkan, warga Palestina menghadapi serangan setiap hari dari para pemukim Israel yang memiliki “tujuan jelas untuk mengusir masyarakat dari tanah mereka.”
Ia menambahkan: “Para jurnalis diserang. Para diplomat diserang. Situasi ini sudah di luar kendali.”
Guterres mengimbau para donor untuk menanggapi permohonan mendesak dari Program Pangan Dunia (World Food Programme) yang membutuhkan dana sebesar 450 juta dolar AS untuk memberi makan penduduk di Gaza dan Tepi Barat selama enam bulan ke depan—jumlah yang menurutnya setara dengan pengeluaran militer global selama sekitar 90 menit.
Ia kembali menyerukan perlunya jalur politik yang kredibel untuk mengakhiri pendudukan atas tanah Palestina dan mewujudkan solusi dua negara.
Guterres mengatakan bahwa ia akan bertolak ke Mesir pada hari Jumat dengan membawa pesan yang sama: “Kita harus menghentikan meluasnya perang, melindungi warga sipil, serta menciptakan ruang politik bagi diplomasi dan perdamaian.” Pernyataan tersebut disampaikan menyusul peningkatan tajam serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Kerajaan tersebut, di tengah konflik yang lebih luas di kawasan itu. Koalisi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman menyatakan pekan lalu bahwa setidaknya 19 orang tewas dan 364 orang terluka dalam serangan Houthi terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha. Koalisi tersebut menambahkan bahwa lima bandara di Arab Saudi telah menjadi sasaran sejak 5 Oktober.
Sumber: arabnews.com




