Bundel Arsip: Super El Nino 2026, Akankah Bumi Alami Kiamat Iklim?

portalindonesia.id

Ilustrasi ini menjelaskan mekanisme terjadinya fenomena iklim El Niño dibandingkan dengan kondisi atmosfer dan laut yang normal. Kondisi Normal: Sirkulasi Walker mendominasi dengan angin pasat kuat yang membawa massa air hangat ke wilayah barat (Indonesia dan sekitarnya), menciptakan penguapan tinggi, awan hujan, serta fenomena upwelling yang kaya nutrisi. Fenomena El Niño: Terjadi anomali pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur. Akibatnya, dorongan angin pasat melemah, pusat tekanan udara dan awan hujan bergeser ke arah timur (Amerika Selatan), sementara wilayah Indonesia dan Asia-Pasifik mengalami penurunan curah hujan drastis yang berpotensi memicu kekeringan, gagal panen, serta kebakaran hutan."

Fenomena Super El Nino kembali membayangi dinamika cuaca global sepanjang tahun 2026.

Lonjakan suhu muka laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis berkembang dengan intensitas yang tidak biasa, hingga mendorong kekhawatiran baru di kalangan ilmuwan.

Perkembangan pesat ini memicu gangguan iklim yang masif, mulai dari krisis pangan hingga kerentanan bencana di berbagai belahan dunia.

Lantas, seberapa besar ancaman fenomena ini terhadap keberlangsungan hidup manusia, dan bagaimana dampaknya bagi kondisi bumi ke depan?

Peringatan awal mengenai keterlibatan fenomena ini tercatat saat Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mendeteksi kenaikan suhu permukaan laut Pasifik melampaui ambang batas 0,5°C. Lonjakan tersebut terus berlanjut hingga mencatatkan anomali suhu mencapai 2,6°C di atas rata-rata normal pada awal Agustus.

Para ahli meteorologi memosisikan tren pemanasan ekstrem di atas 2°C ini sebagai indikator masuknya bumi ke dalam fase Super El Nino. Situasi tersebut bahkan diprediksi berpotensi melampaui rekor peristiwa serupa yang pernah terjadi pada periode 1997/1998.

Siklus hangat yang intens ini membawa efek domino yang nyata terhadap ketahanan pangan dan kestabilan lingkungan. Program Pangan Dunia (WFP) memproyeksikan penurunan curah hujan yang drastis di kawasan Asia Tenggara dan Selatan, serta kekeringan panjang di Afrika bagian selatan.

Kondisi ini merusak musim tanam dan berisiko menambah lebih dari 20 persen populasi dunia ke dalam krisis kelaparan akut. Kerusakan pada pasokan pangan global ini diprediksi menekan perekonomian serta memicu kenaikan harga bahan pokok secara signifikan.

Di Indonesia, ancaman kekeringan ekstrem kian menguat seiring meningkatnya Indeks Niño3.4 BMKG yang menunjukkan kategori kuat sejak akhir Juni dan diperkirakan mencapai puncaknya pada periode Desember 2026 hingga Januari 2027. Mengeringnya wilayah daratan memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama pada ekosistem gambut yang kehilangan kadar airnya.

Meskipun Super El Nino memperluas area yang rentan terbakar, penyebab utama pemicu api tetap didominasi oleh aktivitas manusia yang menggunakan metode pembakaran untuk pembukaan lahan secara murah dan cepat.

Pemodelan iklim menggunakan kecerdasan buatan menunjukkan bahwa peristiwa ekstrem ini berisiko memicu pergeseran rezim iklim yang bersifat permanen. Peningkatan suhu planet yang belum pernah terjadi sebelumnya tidak hanya menghadirkan ancaman jangka pendek berupa badai dan kekeringan, tetapi juga menguji kapasitas adaptasi manusia.

Sumber: nationalgeographic.grid.id

Bagikan

Baca juga